Hubungan Durasi Puasa Terhadap Kejadian Mual Muntah (PONV) Pada Pasien Elektif Post Operasi Dengan Anestesi Umum
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2b.1098Keywords:
Puasa Praoperasi, Anestesi Umun, PONV, Durasi Puasa, Pasien ElektifAbstract
Puasa praoperasi merupakan prosedur standar untuk mencegah aspirasi selama anestesi umum. Namun, durasi puasa yang terlalu panjang dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan meningkatkan risiko komplikasi pascaoperasi, salah satunya Postoperative Nausea and Vomiting (PONV). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara durasi puasa dengan kejadian PONV pada pasien elektif yang menjalani anestesi umum di RSI Aisyiyah Malang. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari pasien elektif yang menjalani anestesi umum dan memenuhi kriteria inklusi, dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi lembar observasi demografi serta kuesioner Rhodes Index of Nausea, Vomiting, and Retching (RINVR) untuk menilai PONV. Analisis data dilakukan menggunakan uji Rank Spearman. Sebagian besar pasien dengan durasi puasa 6–8 jam menunjukkan insidensi PONV lebih rendah dibandingkan pasien dengan durasi puasa lebih dari 8 jam. Uji statistik Rank Spearman menunjukkan adanya hubungan signifikan antara durasi puasa dengan kejadian PONV (p < 0,05). Durasi puasa praoperasi yang sesuai rekomendasi (6–8 jam) terbukti dapat menurunkan risiko PONV pada pasien elektif dengan anestesi umum. Temuan ini menegaskan untuk memperhatikan ketepatan durasi puasa pasien sesuai yang di anjurkan bagi pasien yang akan melakukan operasi dengan anestesi umum, serta memperhatikan tentang kondisi atau kenyamanan pasien post operasi.




