Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Syok Sepsis Di Ruang High Care Unit RSUD.Prof.Dr Margono Soekarjo
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2.1157Keywords:
syok sepsis, Perfusi Perifer Tidak Efektif, Pemantauan Tanda Tanda VitalAbstract
Syok septik merupakan manifestasi berat dari sepsis yang timbul akibat respons tubuh yang tidak teratur terhadap infeksi, yang menyebabkan disfungsi organ, gangguan perfusi jaringan, dan potensi berkembang menjadi kegagalan multiorgan. Pada kondisi ini, perfusi perifer tidak efektif menjadi masalah keperawatan prioritas yang memerlukan pengkajian dan penanganan berkelanjutan. Studi kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien dengan syok septik dan diagnosis keperawatan perfusi perifer tidak efektif di High Care Unit (HCU) RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Studi ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan, yang meliputi pengkajian, perumusan diagnosis, perencanaan intervensi, implementasi, dan evaluasi. Subjek studi adalah Tn. J, seorang laki-laki berusia 69 tahun yang didiagnosis mengalami syok septik serta memiliki riwayat medis hipertensi, congestive heart failure (CHF), dan penyakit ginjal kronis (CKD). Pengumpulan data dilakukan selama dua hari masa perawatan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, telaah dokumentasi, dan analisis rekam medis. Asuhan keperawatan difokuskan pada penanganan perfusi perifer tidak efektif melalui intervensi seperti pemantauan status hemodinamik dan perfusi perifer, pemberian terapi oksigen, menjaga kehangatan tubuh, pembatasan aktivitas, pemberian edukasi pasien, serta kolaborasi dalam terapi cairan dan antibiotik. Hasil evaluasi menunjukkan adanya perbaikan klinis, yang dibuktikan dengan peningkatan tekanan darah dari 90/60 mmHg menjadi 110/70 mmHg, penurunan denyut nadi dari 110 menjadi 92 denyut per menit, peningkatan saturasi oksigen dari 90% menjadi 96%, perbaikan waktu pengisian kembali kapiler capillary refill time (CRT) dari lebih dari tiga detik menjadi kurang dari tiga detik, serta perubahan suhu ekstremitas menjadi hangat. Perbaikan ini bertahan hingga hari ketiga, sehingga pasien dinilai cukup stabil untuk dipindahkan ke ruang rawat inap umum. Temuan studi ini menunjukkan bahwa penerapan intervensi keperawatan yang berfokus pada perawatan sirkulasi, didukung oleh terapi medis, berkontribusi terhadap perbaikan perfusi perifer dan status hemodinamik pada pasien dengan syok septik




