Hubungan Tingkat Sosial Ekonomi Dengan Kejadian Food Neophobia Pada Anak Pra Sekolah Usia 3-6 Tahun

Authors

  • Eka Ageng Febriyanti Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
  • Khoirun Nisa Alfitri Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
  • Ibtidau Niamilah Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

DOI:

https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2b.1236

Keywords:

Food Neophobia, Anak Prasekolah, Sosial Ekonomi, Perilaku Makan, Orang Tua

Abstract

Food neophobia adalah perilaku makan yang umum di antara anak-anak prasekolah dan dapat mengurangi keragaman pola makan serta kecukupan nutrisi. Status sosial ekonomi orang tua dianggap sebagai salah satu faktor yang memengaruhi perilaku makan anak. Studi ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dan food neophobia pangan pada anak prasekolah usia 3-6 tahun di wilayah kerja Puskesmas Gamping 1, Kabupaten Sleman. Studi kuantitatif ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 61 orang tua atau pengasuh utama yang dipilih menggunakan purposive sampling. Kriteria inklusi meliputi orang tua atau pengasuh utama yang memiliki anak usia 3–6 tahun, berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Gamping I, bersedia menjadi responden, serta mampu mengisi kuesioner. Kriteria eksklusi meliputi anak dengan kondisi yang memerlukan diet khusus atau gangguan yang memengaruhi perilaku makan, sedangkan dropout mencakup responden yang tidak menyelesaikan kuesioner atau mengundurkan diri selama penelitian. Data tingkat sosial ekonomi diperoleh melalui kuesioner karakteristik responden yang meliputi tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan pendapatan rumah tangga, sedangkan kejadian food neophobia diukur menggunakan child food neophobia scale (CFNS). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dan Fisher’s Exact Test dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan anak berada pada kategori tidak food neophobia (77,05%). Mayoritas orang tua atau pengasuh utama memiliki tingkat pendidikan sedang (60,66%), tidak bekerja (68,85%), dan pendapatan rumah tangga kategori sedang (54,10%). Berdasarkan hasil analisis, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan (p=0,347), jenis pekerjaan (p=1,000), maupun tingkat pendapatan (p=0,725) dengan kejadian food neophobia pada anak prasekolah usia 3-6 tahun.  Status sosial ekonomi orang tua tidak secara signifikan terkait dengan neofobia makanan pada anak prasekolah. Faktor lain, termasuk praktik pemberian makan, paparan makanan, pengalaman makan, dan lingkungan makan keluarga, mungkin lebih memengaruhi penerimaan anak terhadap makanan baru.

Published

2026-09-03

How to Cite

Febriyanti, E. A., Alfitri, K. N., & Niamilah, I. (2026). Hubungan Tingkat Sosial Ekonomi Dengan Kejadian Food Neophobia Pada Anak Pra Sekolah Usia 3-6 Tahun. Borneo Nursing Journal (BNJ), 8(2b), 4542–4552. https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2b.1236

Issue

Section

Articles