Penerapan Madu Steril Sebagai Balutan Komplementer Pada Perawatan Ulkus Kaki Diabetik Di Ruang High Care Unit RSUD Prof. Dr. Margono Seokarjo Purwokerto
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2b.1504Keywords:
diabetes melitus, ulkus kaki diabetik, madu steril, perawatan luka, terapi komplementerAbstract
Ulkus kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi diabetes melitus yang membutuhkan perawatan komprehensif karena proses penyembuhannya dapat terhambat oleh neuropati perifer, gangguan vaskular, infeksi, dan kontrol glikemik yang tidak optimal. Madu steril atau medical-grade honey berpotensi digunakan sebagai balutan komplementer karena memiliki aktivitas antibakteri, antiinflamasi, antioksidan, serta mampu mempertahankan kelembapan luka. Studi ini bertujuan menggambarkan penerapan madu steril sebagai balutan komplementer dalam asuhan keperawatan pada pasien dengan ulkus kaki diabetik serta perubahan klinis luka selama periode observasi. Studi ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan proses keperawatan pada seorang laki-laki berusia 59 tahun dengan diabetes melitus dan ulkus kaki diabetik pasca debridement yang dirawat di Ruang High Care Unit RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto pada 2–5 Februari 2026. Data dikumpulkan melalui wawancara, pemeriksaan fisik, observasi luka, telaah rekam medis, dan evaluasi harian. Perawatan dilakukan menggunakan teknik aseptik dengan membersihkan luka menggunakan NaCl 0,9%, kemudian mengaplikasikan madu steril dan menutup luka menggunakan kasa steril, kasa gulung, serta perban elastis. Evaluasi meliputi jaringan nekrotik, jaringan granulasi, eksudat, bau luka, tanda infeksi, dan nyeri. Hasil menunjukkan perbaikan klinis berupa berkurangnya jaringan nekrotik, meningkatnya jaringan granulasi, menurunnya eksudat dan bau luka, serta penurunan nyeri dari NRS 6 menjadi 3. Selama observasi tidak ditemukan tanda infeksi baru. Penerapan madu steril dapat dipertimbangkan sebagai terapi komplementer dalam perawatan ulkus kaki diabetik apabila dilakukan secara aseptik dan dikombinasikan dengan standar perawatan luka komprehensif. Studi kasus tunggal dengan periode observasi terbatas menyebabkan hasil belum dapat digeneralisasikan.




