Hubungan Durasi Penggunaan Gadget Dan Postur Terhadap Keluhan Nyeri Leher Pada Anak SMA Di MAN 1 Sleman
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2.1523Keywords:
Durasi Penggunaan Gadget, Postur, Nyeri Leher, Neck Disability Index (NDI), Remaja SMAAbstract
Latar Belakang: Penggunaan gadget pada remaja semakin
meningkat seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan pembelajaran digital.
Penggunaan gadget dalam durasi yang lama serta postur tubuh yang kurang ergonomis
dapat menyebabkan ketegangan otot leher dan berpotensi menimbulkan keluhan nyeri
leher. Hasil penelitian mengenai hubungan durasi penggunaan gadget dan postur
terhadap keluhan nyeri leher masih menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Tujuan
penelitian: Mengetahui hubungan durasi penggunaan gadget dan postur terhadap
keluhan nyeri leher pada siswa MAN 1 Sleman. Metode: Penelitian ini menggunakan
desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian
berjumlah 86 siswa MAN 1 Sleman yang dipilih menggunakan teknik purposive
sampling. Variabel penelitian meliputi durasi penggunaan gadget postur penggunaan
gadget, dan keluhan nyeri leher. Pengukuran postur dilakukan menggunakan aplikasi
Fisio Master dengan analisis Rapid Upper Limb Assessment (RULA), sedangkan
keluhan nyeri leher diukur menggunakan Neck Disability Index (NDI). Analisis data
menggunakan uji statistik Spearman Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan
bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan gadget
dengan keluhan nyeri leher pada siswa MAN 1 Sleman dengan nilai p>0,05. Selain
itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara postur penggunaan gadget dengan
keluhan nyeri leher dengan nilai p>0,05. Hal ini menunjukkan bahwa durasi
penggunaan gadget dan postur penggunaan gadget tidak berhubungan secara
signifikan terhadap keluhan nyeri leher pada responden penelitian. Kesimpulan:.
Tidak terdapat hubungan antara durasi penggunaan gadget dan postur penggunaan
gadget terhadap keluhan nyeri leher pada siswa MAN 1 Sleman. Keluhan nyeri leher
pada siswa kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel penelitian,
seperti aktivitas fisik, kebiasaan olahraga, kualitas istirahat, dan faktor ergonomi
lainnya. Saran: Penelitian selanjutnya diharapkan dapat meneliti faktor-faktor lain
yang memengaruhi keluhan nyeri leher pada remaja serta menggunakan jumlah sampel
yang lebih besar agar hasil penelitian lebih optimal.




