Hubungan Stres Akademik Dengan Perilaku “Emotional Eating” Pada Siswa SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2b.1543Keywords:
Stres; akademik; perilaku emotional eating; remaja; ESSA; EEQAbstract
Masa remaja merupakan fase yang rentan terhadap tekanan sekolah. Kondisi ini
sering memicu emosi negatif yang berdampak pada pola makan, salah satunya perilaku emotional
eating, kebiasaan makan makanan manis atau berkalori tinggi saat stres. Jika dibiarkan, fenomena
ini berisiko memicu masalah gizi. Penelitian dilakukan di Sekolah Menengah Atas
Muhammadiyah 4 Yogyakarta karena memiliki beban kurikulum yang padat. Tujuan:
Menganalisis hubungan antara stres akademik dengan perilaku emotional eating pada siswa remaja
di Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Metode: Penelitian kuantitatif analitik
observasional (cross-sectional) melibatkan 71 sampel dari total 227 siswa (15–18 tahun) yang
dipilih dari teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Educational Stress Scale
for Adolescent (ESSA) dan Emotional Eater Questionnaire (EEQ), lalu dianalisis menggunakan
uji Fisher’s Exact Test. Hasil: Mayoritas siswa mengalami stres akademik sedang (77,46%),
diikuti tinggi (19,72%) dan rendah (2,82%) akibat beban tugas serta kekhawatiran nilai. Perilaku
emotional eating didominasi kategori sedang-tinggi (57,74%), rendah (36,62%), dan tinggi
(5,63%). Uji statistik membuktikan adanya hubungan signifikan (p = 0,003) antara tingkat stres
akademik dan peningkatan perilaku emotional eating sebagai mekanisme koping maladaptif.
Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara stres akademik dan perilaku emotional eating
pada siswa SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta, sehingga sekolah diharapkan mengoptimalkan
program pencegahan stres dan edukasi gizi.




