Hubungan Peran Perawat Sebagai Edukator Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien TB Paru Di UPTD Puskesmas Kayon Kota Palangka Raya
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2b.1561Keywords:
Peran Perawat, Edukator, Kepatuhan Minum Obat, TB Paru.Abstract
Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi yang memerlukan pengobatan
jangka panjang sehingga kepatuhan minum obat menjadi faktor penting dalam keberhasilan terapi.
Tingginya angka putus berobat pada pasien TB Paru masih menjadi masalah yang dipengaruhi oleh
rendahnya pengetahuan pasien mengenai pengobatan serta belum optimalnya peran perawat sebagai
edukator dalam memberikan pendidikan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan peran perawat sebagai edukator dengan kepatuhan minum obat pada pasien TB Paru di
UPTD Puskesmas Kayon Kota Palangka Raya.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional analitik dan
pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 35 pasien TB Paru yang dipilih
menggunakan teknik total sampling. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman (Spearman's
rho).
Hasil: Hasil penelitian menjawab ketiga tujuan khusus penelitian, yaitu: peran perawat sebagai
edukator sebagian besar berada pada kategori baik sebanyak 22 responden (62,9%) dan kategori
cukup sebanyak 13 responden (37,1%); kepatuhan minum obat sebagian besar berada pada kategori
kurang sebanyak 23 responden (65,7%) dan kategori cukup sebanyak 12 responden (34,3%); serta
hasil uji korelasi Spearman's rho diperoleh nilai r = -0,120 dengan p = 0,493 (a = 0,05) sehingga tidak
terdapat hubungan yang signifikan antara peran perawat sebagai edukator dengan kepatuhan minum
obat pada pasien TB Paru di UPTD Puskesmas Kayon Kota Palangka Raya.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara peran perawat sebagai edukator dengan
kepatuhan minum obat pada pasien TB Paru di UPTD Puskesmas Kayon Kota Palangka. Kepatuhan
minum obat diduga lebih dipengaruhi oleh faktor lain seperti pengetahuan, sikap, motivasi, dukungan
keluarga, dan kondisi sosial-ekonomi pasien, sehingga diperlukan penguatan edukasi berkelanjutan,
peningkatan pengawasan minum obat, serta dukungan lingkungan untuk meningkatkan kepatuhan
pengobatan pasien TB Paru.




