Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Tentang Personal Hygiene Dengan Kejadian Keputihan Pada Remaja Putri Di SMKN 1 Palangka Raya
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2b.1572Keywords:
Pengetahuan, Sikap, Personal Hygiene, Keputihan, Remaja PutriAbstract
Keputihan (fluor albus) merupakan keluarnya cairan dari vagina yang dapat
bersifat fisiologis maupun patologis dan banyak dialami perempuan, terutama pada masa remaja
akibat perubahan hormonal. Di Indonesia diperkirakan lebih dari 50 juta perempuan pernah
mengalami keputihan, termasuk sekitar 15 juta remaja putri usia 15–24 tahun. Tingginya kejadian
tersebut berkaitan dengan rendahnya edukasi kesehatan reproduksi, khususnya mengenai
pengetahuan dan sikap tentang personal hygiene, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya
keputihan patologis. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk mengetahui hubungan
pengetahuan dan sikap tentang personal hygiene dengan kejadian keputihan pada remaja putri.
Tujuan: Mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap tentang personal hygiene dengan kejadian
keputihan pada remaja putri di SMKN 1 Palangka Raya.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-
sectional. Populasi penelitian berjumlah 88 remaja putri dengan teknik total sampling. Data
dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan
uji Likelihood Ratio.
Hasil: Sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik sebanyak 54 responden (61,4%),
sikap baik sebanyak 60 responden (68,2%), dan mengalami keputihan fisiologis sebanyak 55
responden (62,5%). Hasil uji Likelihood Ratio menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan
antara pengetahuan tentang personal hygiene dengan kejadian keputihan (p=0,000<α=0,05) serta
antara sikap tentang personal hygiene dengan kejadian keputihan (p=0,000<α=0,05).
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap tentang personal
hygiene dengan kejadian keputihan pada remaja putri di SMKN 1 Palangka Raya. Peningkatan
edukasi mengenai personal hygiene melalui kerja sama sekolah, tenaga kesehatan, dan orang tua
diharapkan dapat meningkatkan perilaku hidup bersih serta mencegah terjadinya keputihan
patologis pada remaja putri.




