Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Status Gizi Balita Di UPTD Puskesmas Kayon Kota Palangka Raya
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2b.1588Keywords:
Pengetahuan, Status Gizi, BalitaAbstract
Status gizi balita merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan
derajat kesehatan anak. Pengetahuan ibu tentang gizi berperan dalam pemenuhan kebutuhan gizi
balita melalui pemberian makanan yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak.
Namun, status gizi balita tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan ibu, tetapi juga dipengaruhi
oleh berbagai faktor lain seperti pola asuh, penyakit infeksi, kondisi sosial ekonomi keluarga,
dan sanitasi lingkungan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui
hubungan pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi balita di UPTD Puskesmas Kayon
Kota Palangka Raya.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan status
gizi balita di UPTD Puskesmas Kayon Kota Palangka Raya.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian analitik
menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 70 responden yang
dipilih menggunakan teknik random sampling. Analisis data dilakukan melalui analisis univariat
dan bivariat menggunakan uji Chi-Square.
Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan
dalam kategori baik sebanyak 57 responden (81,4%), sedangkan kategori cukup sebanyak 13
responden (18,6%). Sebagian besar balita memiliki status gizi baik sebanyak 47 balita (67,1%),
sedangkan 23 balita (32,9%) memiliki status gizi kurang. Hasil analisis menggunakan uji Chi-
Square diperoleh nilai p-value= 0,405 (p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat
hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan status gizi balita di UPTD Puskesmas
Kayon.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan status gizi
balita di UPTD Puskesmas Kayon. Status gizi balita kemungkinan dipengaruhi oleh berbagai faktor
lain di luar pengetahuan ibu. Oleh karena itu, diperlukan upaya promotif dan preventif melalui
edukasi kesehatan, pemantauan pertumbuhan balita secara rutin, serta peningkatan peran keluarga
dalam memenuhi kebutuhan gizi balita.




