Hubungan Penggunaan Air Sungai Yang Tercemar Dengan Kejadian Dermatitis Pada Masyarakat Di Wilayah Kerja BLUD UPTD Puskesmas Pahandut Kota Palangka Raya
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2b.1708Keywords:
Dermatitis, Penggunaan Air Sungai, Pencemaran Air, Masyarakat Bantaran SungaiAbstract
Latar Belakang: Dermatitis merupakan salah satu penyakit kulit terbanyak di wilayah kerja BLUD UPTD Puskesmas Pahandut Kota Palangka Raya. Masyarakat bantaran Sungai Kahayan masih banyak menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, sementara kondisi sungai telah tercemar limbah rumah tangga, logam berat, dan bahan kimia berbahaya yang diduga menjadi faktor risiko utama kejadian dermatitis. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara penggunaan air sungai yang tercemar dengan kejadian dermatitis pada masyarakat di wilayah kerja BLUD UPTD Puskesmas Pahandut. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel berjumlah 97 responden dipilih teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebanyak 85,6% responden menggunakan air sungai dalam kegiatan sehari-hari dan 69,1% mengalami gejala dermatitis. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,049 (p < 0,05), artinya terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan air sungai yang tercemar dengan kejadian dermatitis. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan air sungai yang tercemar dengan kejadian dermatitis pada masyarakat di wilayah kerja BLUD UPTD Puskesmas Pahandut. Diperlukan penyediaan air bersih yang layak, serta pemantauan kualitas lingkungan perairan secara berkala oleh pemerintah daerah.




