Dampak Electro Convulsive Therapy (ECT) terhadap Gejala Psikotik dan Fisik pada Pasien Skizoafektif Tipe Manik dengan Masalah Utama Halusinasi Pendengaran: Case Report

Authors

  • Nauracinta Hazelita Universitas Padjadjaran
  • Titin Sutini Universitas Padjadjaran
  • Iceu Amira Universitas Padjadjaran

Keywords:

Electro Convulsive Therapy, Skizoafektif Tipe Manik, Halusinasi Pendengaran

Abstract

Pasien berusia 17 tahun dengan diagnosis gangguan skizoafektif tipe manik, mengalami halusinasi pendengaran berupa suara yang mencemooh dan memerintahkan bunuh diri disertai kecemasan berat, perubahan perilaku, ledakan emosi, serta gangguan kontrol diri dengan riwayat trauma psikologis berat sejak usia remaja berupa kekerasan seksual berulang dan kekerasan dalam rumah tangga. Gejala yang dialami pasien menunjukkan kondisi psikiatri berat dengan risiko membahayakan diri sendiri sehingga memerlukan penatalaksanaan yang cepat dan komprehensif. Selain terapi farmakologis, pasien menjalani tindakan Electro Convulsive Therapy (ECT) sebagai terapi tambahan untuk membantu mengurangi gejala psikotik dan afektif yang dialami. Namun, pelaksanaan ECT dapat menimbulkan berbagai respons fisik dan psikologis sehingga diperlukan monitoring yang komprehensif selama terapi berlangsung. Laporan ini menggunakan metode studi kasus melalui observasi klinis, wawancara, serta monitoring kondisi fisik dan psikologis pasien selama pelaksanaan terapi ECT. Selama pelaksanaan ECT ditemukan peningkatan tekanan darah sementara setelah tindakan, keluhan mual setelah ECT pertama, serta nyeri kepala setelah ECT kedua. Durasi kejang terapeutik yang dihasilkan masih berada di bawah durasi optimal yang direkomendasikan dalam literatur. Penggunaan propofol sebagai anestesi umum tetap menunjukkan keamanan dan efektivitas selama prosedur berlangsung. Pelaksanaan ECT pada pasien gangguan skizoafektif tipe manik dengan halusinasi pendengaran menunjukkan adanya respons fisik dan psikologis selama terapi berlangsung. Pada kasus ini ditemukan peningkatan tekanan darah sementara, mual, dan nyeri kepala setelah tindakan ECT. Oleh karena itu, monitoring kondisi fisik, psikologis, serta efek samping pascatindakan secara komprehensif diperlukan untuk menunjang keamanan dan keberhasilan terapi ECT pada pasien dengan kondisi psikiatri berat.

Published

2026-11-02

How to Cite

Hazelita, N., Sutini, T., & Amira, I. (2026). Dampak Electro Convulsive Therapy (ECT) terhadap Gejala Psikotik dan Fisik pada Pasien Skizoafektif Tipe Manik dengan Masalah Utama Halusinasi Pendengaran: Case Report. Borneo Nursing Journal (BNJ), 8(2b), 8920–8928. Retrieved from https://bnj.akys.ac.id/BNJ/article/view/1796

Issue

Section

Articles