Persepsi Remaja Tentang Pola Asuh Orang Tua Terhadap Gangguan Mental: Studi Kasus
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2b.1908Keywords:
Persepsi Remaja, Pola Asuh Orang Tua, Gangguan Mental, Kesehatan Mental, Studi KasusAbstract
Gangguan mental pada remaja merupakan masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya pola asuh orang tua. Pola asuh yang kurang tepat, seperti pola asuh otoriter dan mengabaikan/lalai, dapat berdampak terhadap kondisi psikologis remaja, seperti stres, kecemasan, rendahnya rasa percaya diri, serta kesulitan dalam mengungkapkan perasaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi remaja tentang pola asuh orang tua terhadap gangguan mental di Kecamatan Loa Janan, Kota Samarinda. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri atas informan utama, informan pendukung, dan informan kunci. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan uji keabsahan data menggunakan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi remaja terhadap pola asuh orang tua didominasi oleh pola asuh otoriter dan pola asuh mengabaikan/lalai. Pola asuh otoriter ditandai dengan komunikasi satu arah, tuntutan yang tinggi, serta pemberian hukuman verbal maupun fisik sehingga menyebabkan remaja merasa takut, cemas, rendah diri, dan sulit mengungkapkan perasaan. Sementara itu, pola asuh mengabaikan/lalai ditandai dengan kurangnya perhatian, komunikasi, dan dukungan emosional dari orang tua sehingga remaja merasa kesepian, menarik diri dari lingkungan sosial, serta mengalami stres, kecemasan, dan perubahan kondisi psikologis. Persepsi remaja menunjukkan bahwa pola asuh otoriter dan pola asuh mengabaikan/lalai berkontribusi terhadap munculnya gangguan mental pada remaja. Orang tua diharapkan menerapkan pola asuh yang lebih terbuka, meningkatkan komunikasi, memberikan perhatian dan dukungan emosional, serta membangun hubungan yang harmonis agar kesehatan mental remaja tetap terjaga.




