Korset Penyangga Pinggang Menurunkan Low Back Pain (LBP) Pada Pemanen Kelapa Sawit
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2b.2091Keywords:
Low Back Pain, Korset LSO, Pemanen Kelapa Sawit, Masa Kerja, Indeks Massa TubuhAbstract
Low Back Pain (LBP) dialami 68,5% pemanen kelapa sawit akibat beban biomekanik ekstrem saat memikul Tandan Buah Segar (15–25 kg). Ketiadaan bukti empiris mengenai efektivitas klinis dan respons dosis-hasil (durasi dan frekuensi) penggunaan korset Lumbar Sacral Orthosis (LSO) pada agrikultur berbeban dinamis berat, serta belum terukurnya sejauh mana masa kerja dan IMT bertindak sebagai variabel mediator yang menjelaskan variasi efektivitas intervensi, menjadi research gap utama penelitian ini. Tujuan: Menganalisis perubahan tingkat LBP sebelum dan sesudah intervensi penggunaan korset penyangga pinggang (LSO) pada pemanen kelapa sawit. Metode: Penelitian quasi-experimental (one-group pretest-posttest design) ini dilakukan pada 32 pemanen kelapa sawit di PT Salonok Ladang Mas. Nyeri diukur dengan Numeric Rating Scale (NRS 0–10) sebelum dan sesudah 14 hari intervensi LSO. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon, Spearman Rank, dan Regresi Linear Berganda. Hasil: Seluruh responden (100%) mengalami LBP berat saat pretest (rerata NRS 8,06 ± 0,716). Setelah intervensi, nyeri turun signifikan menjadi 37,5% ringan dan 62,5% sedang (rerata NRS 3,81 ± 0,896; Z = -4,965; p = 0,000). Durasi harian (r = -0,902) dan frekuensi mingguan (r = -0,786) berkorelasi sangat kuat dengan nyeri akhir. Regresi linear (Adjusted R² = 0,839) membuktikan masa kerja (p = 0,003) dan IMT (p = 0,001) berpengaruh signifikan sebagai variabel mediator utama, sedangkan usia tidak berpengaruh (p = 0,305). Kesimpulan: Korset LSO efektif menurunkan LBP, di mana efektivitasnya sangat ditentukan oleh dosis pemakaian serta dimediasi oleh karakteristik masa kerja dan IMT pekerja. Rekomendasi: Perusahaan disarankan mengadopsi korset LSO sebagai APD ergonomis standar dan memantau IMT pekerja, sedangkan penelitian selanjutnya direkomendasikan menerapkan desain Randomized Controlled Trial (RCT) serta analisis jalur (path analysis).




