Hubungan Pola Konsumsi Makanan Cepat Saji (Junk Food) Dengan Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Pra Lansia Di Posyandu Lansia Kelurahan Bumiayu Kota Malang
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2.514Keywords:
Diabetes Melitus Tipe 2, Junk Food, Pola Konsumsi, Pra Lansia, RisikoAbstract
Konsumsi makanan cepat saji (junk food) yang tinggi gula, lemak jenuh, dan garam, namun rendah serat merupakan salah satu faktor risiko terjadinya Diabetes Melitus Tipe 2, khususnya pada kelompok usia pra lansia yang mengalami penurunan fungsi metabolisme. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola konsumsi junk food dengan risiko Diabetes Melitus Tipe 2 pada pra lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Bumiayu, Kota Malang tepatnya di Posyandu Lansia Mawar Kuning 2 RW 1 dan Posyandu Lansia Anggrek RW 3. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh pra lansia yang terdaftar di Posyandu Lansia Mawar Kuning 2 RW 1 dan Posyandu Lansia Anggrek RW 3 sebanyak 54 responden, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Pola konsumsi junk food diukur menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ), sedangkan risiko Diabetes Melitus Tipe 2 diukur menggunakan Finnish Diabetes Risk Score (FINDRISC). Hasil analisis menggunakan uji Spearman’s rho menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola konsumsi makanan cepat saji (junk food) dengan risiko Diabetes Melitus Tipe 2 (p = 0,027; r = 0,300), dengan arah hubungan positif dan kekuatan hubungan lemah. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin sering konsumsi junk food, maka semakin tinggi risiko Diabetes Melitus Tipe 2 pada pra lansia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendukung upaya promotif dan preventif melalui edukasi pola makan sehat serta pengendalian konsumsi junk food sebagai strategi pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 pada kelompok pra lansia di tingkat komunitas.




