Hubungan Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Seimbang Dan Berkualitas Dengan Status Gizi Bayi 6-12 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Batudaa
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2.663Keywords:
Bayi 6–12 Bulan, Gizi Kurang, MP-ASI Seimbang, Status Gizi, Pemberian MP-ASIAbstract
Latar Belakang: Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami berbagai permasalahan kesehatan, baik fisik maupun psikologis. Salah satu kondisi yang sering terjadi pada lansia adalah frailty, yang ditandai dengan penurunan fungsi, penurunan kekuatan, daya tahan. Kondisi frailty dapat meningkatkan kerentanan lansia terhadap berbagai masalah kesehatan, serta gejala depresi yang dapat memperburuk kualitas hidup lansia. Namun, hubungan antara frailty dan gejala depresi pada lansia masih perlu dikaji lebih lanjut, khususnya pada pelayanan kesehatan berbasis masyarakat seperti posyandu lansia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara frailty dengan gejala depresi pada lansia di Posyandu Lansia Dahlia, Kramen, Godean, Sleman, Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah lansia yang aktif dan terdaftar di Posyandu Lansia Dahlia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 119 lansia yang memenuhi kriteria inklusi. Frailty diukur menggunakan Tilburg Frailty Indicator (TFI), sedangkan gejala depresi diukur menggunakan Geriatric Depression Scale (GDS). Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik untuk mengetahui hubungan antarvariabel. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori tidak frail (74,8%) dan tidak mengalami depresi (78,2%). Hasil uji korelasi Spearman’s rho menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara frailty dan gejala depresi pada lansia, dengan nilai koefisien korelasi r = 0,468 dan nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05). Arah hubungan bersifat positif dengan kekuatan hubungan sedang, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat frailty pada lansia, maka semakin tinggi pula tingkat gejala depresi yang dialami. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara frailty dan gejala depresi pada lansia. Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi frailty berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya gejala depresi pada lansia. Oleh karena itu, diperlukan upaya deteksi dini dan penanganan frailty serta kesehatan mental secara terpadu melalui pelayanan kesehatan lansia di masyarakat.




