Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Kelemahan (Frailty) Pada Lansia
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2.667Keywords:
Lansia, Aktivitas Fisik, FrailtyAbstract
Latar Belakang: Peningkatan jumlah lansia seiring proses aging population berdampak pada meningkatnya masalah kesehatan geriatri, salah satunya adalah kelemahan (frailty).Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik terhadap kelemahan pada lansia di Posyandu Lansia Dahlia.Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional ini melibatkan 119 lansia berusia ≥60 tahun yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi. Aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionnaire – Elderly (IPAQ-E) dan tingkat frailty diukur menggunakan Tilburg Frailty Indicator (TFI). Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan rata-rata total aktivitas fisik responden adalah 4722,70 MET-menit/minggu, dengan kategori rendah (17,6%), sedang (42,9%), dan tinggi (39,5%). Sebanyak 25,2% lansia tergolong frail dengan rata-rata skor TFI 3,24. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan kelemahan pada lansia (r = -0,122; p = 0,187). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara aktivitas fisik terhadap kelemahan pada lansia di Posyandu Lansia Dahlia. Meskipun secara teori aktivitas fisik berperan penting, pada populasi penelitian ini, faktor lain seperti penyakit kronis, status nutrisi, dan dukungan sosial diduga lebih dominan. Upaya promotif dan preventif perlu diintegrasikan dengan pendekatan holistik yang memperhatikan berbagai faktor risiko frailty untuk mempertahankan kemandirian dan kualitas hidup lansia.




