Hidroterapi Rendam Kaki Air Hangat Menurunkan Tekanan Darah Pada Lansia Hipertensi
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2.670Keywords:
Hidroterapi, Hipertensi, Lansia, Tekanan DarahAbstract
Latar belakang : Hipertensi menjadi gangguan kesehatan yang dominan pada kalangan usia lanjut dan berperan signifikan dalam memicu tingginya risiko jantung dan pembuluh darah. Selain terapi farmakologis, intervensi non-farmakologis sederhana yang mudah diterapkan di komunitas diperlukan untuk membantu pengendalian tekanan darah. Salah satu pendekatan non-farmakologi yang dapat memberikan sensasi relaksasi dan memicu pelebaran pembuluh darah perifer adalah hidroterapi melalui perendaman kaki menggunakan air hangat. Tujuan : Penelitian ini dirancang untuk mengetahui pengaruh terapi rendam kaki air hangat terhadap perubahan nilai tekanan darah pada kelompok lansia yang mengalami hipertensi. Metode : Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen tipe one-group pretest-posttest. Partisipannya berjumlah 45 orang lansia penderita hipertensi yang direkrut melalui metode total sampling di Posyandu Uswatun Hasanah. Intervensi yang diberikan adalah perendaman kaki dalam air hangat (suhu 38ºC-40ºC) selama tiga hari berturut-turut. Data tekanan darah dikumpulkan pada dua titik waktu menggunakan tensimeter digital yang terkalibrasi. Selanjutnya dilakukan analisis statistik non-parametrik dengan uji Wilcoxon yang digunakan untuk memancarkan perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil : Terdapat penurunan signifikan pada kedua parameter tekanan darah setelah intervensi. Rata-rata tekanan sistolik turun hingga 21.1 mmHg (dari 168.7 menjadi 147.6 mmHg), sementara tekanan diastolik berkurang 14.3 mmHg (dari 96.7 menjadi 82.4 mmHg). Hasil uji Wilcoxon memperkuat temuan ini dengan nilai p < 0.001 dan effect size yang besar (r = 0.87), yang mengindikasikan besarnya dampak intervensi. Kesimpulan : Terapi rendam kaki menggunakan air hangat memberikan efek positif terhadap penurunan tekanan darah pada lansia hipertensi. Pendekatan non-farmakologis ini berpotensi dikembangkan sebagai intervensi suportif yang mudah dilakukan, tidak membahayakan, serta sesuai untuk implementasi di tingkat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.




