Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Underreporting Dan Blaming Culture Pada Insiden Keselamatan Pasien: Scoping Review
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2.722Keywords:
Keselamatan Pasien, Underreporting, Blaming Culture, Just Culture, Insiden Keselamatan, Scoping ReviewAbstract
Latar Belakang:Insiden keselamatan pasien memerlukan pelaporan sistematis guna mencegah kesalahan berulang. Namun, tingkat pelaporan global masih rendah akibat dominasi budaya menyalahkan di lingkungan klinis. Pemetaan faktor pendorong underreporting masih terbatas, khususnya di fasilitas kesehatan negara berkembang yang menghadapi keterbatasan sumber daya. Kondisi ini menghambat proses pembelajaran organisasi dan meningkatkan risiko kesalahan klinis yang dapat dihindari. Tujuan: Artikel ini bertujuan mengidentifikasi dan memetakan faktor yang mempengaruhi underreporting serta blaming culture dalam pelaporan insiden keselamatan pasien melalui pendekatan scoping review yang terstruktur.Metode:Kajian menerapkan kerangka kerja Arksey dan O’Malley dengan pedoman PRISMA-ScR. Penelusuran dilakukan pada Scopus, PubMed, dan Google Scholar periode 2015 hingga 2025. Tiga puluh delapan artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara deskriptif-tematik berdasarkan domain organisasi, psikologis, sistem pelaporan, dan budaya keselamatan.Hasil: Underreporting dan budaya menyalahkan dipengaruhi empat domain utama, yakni hierarki kaku dan beban kerja tinggi, ketakutan sanksi serta persepsi ketidakbermanfaatan pelaporan, kompleksitas sistem pelaporan, dan absennya just culture berorientasi pembelajaran. Intervensi non-punitif, pelatihan kepemimpinan transformatif, dan penyederhanaan alur pelaporan terbukti meningkatkan kepatuhan pelaporan secara signifikan. Kesimpulan : Underreporting dan blaming culture bersifat multifaktorial serta saling memperkuat secara sistemik. Transformasi budaya keselamatan menuntut perubahan kebijakan institusional, penguatan prinsip keadilan, dan evaluasi berkelanjutan. Riset longitudinal dan adaptif konteks lokal sangat diperlukan untuk mengukur dampak intervensi terhadap perilaku pelaporan tenaga kesehatan secara komprehensif. Temuan ini memberikan dasar empiris bagi pengembangan strategi manajemen risiko yang lebih adaptif.




