Person-Centered Care Sebagai Strategi Transformasi Mutu Pelayanan Rumah Sakit: Systematic Review Dan Implikasi Bagi RS Bhayangkara Denpasar
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v8i2.731Keywords:
Person-Centered Care, RS Bhayangkara Denpasar, Mutu Rumah Sakit, Kepuasan Pasien, Keselamatan Pasien, Systematic ReviewAbstract
Latar Belakang: Perubahan paradigma pelayanan kesehatan menuntut rumah sakit tidak hanya berfokus pada keberhasilan klinis, tetapi juga pada pengalaman pasien, keselamatan, serta keberlanjutan mutu layanan. Dalam konteks tersebut, Person-Centered Care (PCC) berkembang sebagai pendekatan yang menempatkan pasien beserta nilai, preferensi, dan kebutuhannya sebagai pusat proses pelayanan. Berbagai sistem kesehatan telah mengadopsi PCC sebagai strategi peningkatan mutu, namun implementasinya masih menghadapi tantangan, terutama pada organisasi rumah sakit yang bercorak hierarkis dan birokratis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menelaah bukti ilmiah mengenai pengaruh implementasi PCC terhadap mutu pelayanan rumah sakit, mengidentifikasi faktor pendukung dan hambatan penerapan, serta merumuskan implikasi strategis bagi RS Bhayangkara Denpasar. Metode: Kajian ini menggunakan metode systematic review dengan mengacu pada pedoman PRISMA. Penelusuran literatur dilakukan melalui PubMed, Scopus, Google Scholar, ScienceDirect, dan ProQuest terhadap artikel terbit tahun 2020–2025. Kata kunci yang digunakan meliputi Person-Centered Care, Patient-Centered Care, hospital quality improvement, patient experience, dan healthcare leadership. Setelah melalui proses seleksi, penilaian kualitas, dan telaah teks lengkap, sebanyak 15 artikel dimasukkan ke dalam sintesis akhir. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan tematik. Hasil: Mayoritas studi menunjukkan bahwa implementasi PCC berhubungan positif dengan peningkatan mutu rumah sakit. Dampak yang paling konsisten meliputi meningkatnya kepuasan pasien, membaiknya komunikasi tenaga kesehatan-pasien, meningkatnya keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan klinis, serta menguatnya budaya keselamatan pasien. Sejumlah studi juga melaporkan perbaikan kepatuhan terapi, efisiensi pelayanan, dan loyalitas pasien. Faktor pendukung utama mencakup komitmen pimpinan, pelatihan komunikasi, budaya kerja kolaboratif, sistem informasi yang responsif, serta evaluasi berbasis pengalaman pasien. Adapun hambatan implementasi meliputi resistensi organisasi, keterbatasan SDM, beban kerja tinggi, dan pemahaman PCC yang belum merata. Kesimpulan: PCC merupakan strategi transformasi mutu yang relevan bagi rumah sakit modern karena mengintegrasikan aspek klinis, manajerial, dan pengalaman pasien secara bersamaan. Pada RS Bhayangkara Denpasar, penerapan PCC berpotensi memperkuat citra institusi, meningkatkan kepercayaan masyarakat, dan mendorong pelayanan yang profesional sekaligus humanis. Keberhasilan implementasi memerlukan kepemimpinan yang adaptif, perubahan budaya organisasi, serta integrasi PCC ke dalam sistem mutu rumah sakit.




