Pengaruh Pemberian Rebusan Daun Kelor dan Sayur Bayam terhadap Produksi ASI pada Ibu Nifas di PMB Hermita Barus Tahun 2025
DOI:
https://doi.org/10.61878/bnj.v9i1.813Keywords:
Daun Kelor, Bayam, Produksi ASI, Ibu Nifas, Terapi AlamiAbstract
Cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih belum mencapai target nasional, sehingga diperlukan upaya pendukung yang aman, murah, dan mudah diakses untuk meningkatkan produksi ASI pada ibu nifas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan pengaruh pemberian rebusan daun kelor dan rebusan sayur bayam terhadap jumlah produksi ASI pada ibu nifas di PMB Hermita Barus pada tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan sebelum dan sesudah intervensi pada dua orang responden. Responden pertama mendapatkan intervensi berupa rebusan daun kelor, sedangkan responden kedua mendapatkan rebusan sayur bayam, masing-masing diberikan rutin dua kali sehari selama tujuh hari pengamatan. Pengukuran produksi ASI dilakukan secara langsung untuk melihat perubahan volume yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian rebusan daun kelor mampu meningkatkan produksi ASI sebesar 130 ml, sedangkan rebusan sayur bayam meningkatkan produksi ASI sebesar 100 ml. Hasil analisis menunjukkan daun kelor lebih efektif dalam merangsang kerja hormon laktasi, dikarenakan kandungan nutrisi, vitamin, mineral, dan senyawa fitokimia yang lebih lengkap dan berperan aktif dalam proses pembentukan ASI. Sementara itu, konsumsi rebusan bayam tetap memberikan manfaat baik, utamanya dalam memperbaiki status gizi umum ibu nifas. Kesimpulan penelitian ini adalah rebusan daun kelor memiliki pengaruh yang lebih optimal dalam meningkatkan volume produksi ASI dibandingkan rebusan sayur bayam. Rebusan bayam berfungsi baik sebagai pendukung pemenuhan kebutuhan gizi ibu. Disarankan bagi tenaga kesehatan, khususnya bidan, serta ibu nifas untuk memanfaatkan rebusan daun kelor sebagai salah satu terapi nonfarmakologi yang efektif untuk mengoptimalkan produksi ASI dan mendukung keberhasilan program ASI eksklusif.




